NBA tidak hanya soal pertarungan skill individu dan gelar juara, tetapi juga tentang rivalitas abadi antar tim. Rivalitas ini terbentuk dari perjalanan sejarah yang panjang, pertarungan di babak playoff, hingga persaingan antar bintang yang membela timnya masing-masing. Bagi penggemar, pertandingan rivalitas selalu membawa emosi yang berbeda, seolah kemenangan melawan musuh bebuyutan lebih berarti daripada sekadar menambah rekor.
Beberapa rivalitas paling panas dalam sejarah NBA berikut ini masih terus menjadi topik pembicaraan hingga sekarang.
Ini adalah rivalitas paling legendaris dalam sejarah NBA. Lakers dan Celtics sudah bertemu di final NBA sebanyak 12 kali, dengan Celtics memenangkan delapan di antaranya. Rivalitas ini mencapai puncaknya pada era 1980-an ketika Magic Johnson memimpin Lakers dan Larry Bird menjadi ikon Celtics. Pertemuan keduanya tidak hanya mengangkat popularitas NBA secara global, tetapi juga menciptakan kisah abadi tentang kompetisi antara Pantai Barat dan Pantai Timur.
Permusuhan yang terjalin selama bertahun-tahun membuat setiap pertemuan Lakers dan Celtics selalu ditunggu-tunggu. Bahkan pada 2008 dan 2010, keduanya kembali bertemu di final dengan intensitas yang sama seperti era sebelumnya. Hingga kini, meski skuad telah berubah, rivalitas ini tetap hidup sebagai bagian dari sejarah besar NBA.
Pada penghujung 1980-an hingga awal 1990-an, Bulls dan Pistons terlibat dalam rivalitas yang penuh intensitas. Pistons dengan “Bad Boys”-nya—Isiah Thomas, Bill Laimbeer, dan Dennis Rodman—dikenal dengan permainan fisik dan pertahanan brutal. Mereka menjadi rintangan besar bagi Michael Jordan yang kala itu berjuang membawa Bulls mencapai puncak NBA.
Bulls harus kalah tiga kali beruntun di playoff sebelum akhirnya membalas pada 1991. Pada momen itu, Jordan bersama rekan-rekannya berhasil menundukkan Pistons dan membuka era kejayaan dinasti Chicago Bulls. Pertemuan mereka melahirkan banyak momen emosional, termasuk ketika para pemain Pistons keluar lapangan tanpa berjabat tangan setelah kalah. Rivalitas ini menjadi simbol transisi era dari Pistons ke Bulls.
Rivalitas Knicks dan Heat memanas pada akhir 1990-an. Saat itu, kedua tim sama-sama mengandalkan permainan fisik dan pertahanan ketat. Kehadiran pelatih Pat Riley, yang sebelumnya menangani Knicks lalu beralih ke Heat, membuat ketegangan semakin memuncak.
Pertemuan mereka di playoff dari 1997 hingga 2000 selalu berlangsung dramatis, bahkan beberapa kali berakhir dengan perkelahian di lapangan. Meski sekarang intensitasnya tidak seperti dulu, memori rivalitas Knicks dan Heat tetap melekat sebagai salah satu yang paling sengit di era modern NBA.
Duel bergengsi ini muncul pada era 2010-an ketika Warriors dan Cavaliers bertemu di final NBA selama empat tahun berturut-turut (2015–2018). Stephen Curry memimpin Warriors dengan gaya small ball dan tembakan tiga angka mematikan, sementara LeBron James menjadi pusat kekuatan Cavaliers.
Pertemuan keduanya melahirkan cerita luar biasa, termasuk comeback Cavaliers dari ketertinggalan 1–3 di final 2016 yang membuat mereka meraih gelar juara pertama. Walaupun kini keduanya tidak lagi sekuat dulu, rivalitas antara Warriors dan Cavaliers tetap dikenang sebagai salah satu kisah terbesar dalam sejarah playoff NBA modern.
Sebagai dua tim yang sama-sama berasal dari Texas, Spurs dan Mavericks memiliki rivalitas tersendiri yang khas. Puncaknya terjadi pada awal hingga pertengahan 2000-an ketika Tim Duncan memimpin Spurs dan Dirk Nowitzki menjadi bintang Mavericks. Pertemuan mereka di playoff selalu berlangsung ketat, dengan beberapa seri bahkan berakhir hingga tujuh pertandingan.
Rivalitas ini juga menjadi representasi persaingan dua gaya bermain berbeda: Spurs dengan sistem kolektif dan fundamental, sementara Mavericks mengandalkan kepiawaian Nowitzki. Walaupun keduanya mengalami penurunan setelah era kejayaan, ingatan tentang persaingan Texas ini tetap hidup di benak para penggemar.
Pada penghujung 1990-an hingga awal 2000-an, Lakers dan Spurs tampil sebagai dua tim yang paling dominan di NBA. Lakers dengan trio Shaquille O’Neal, Kobe Bryant, dan Phil Jackson menghadapi Spurs yang dipimpin Tim Duncan, David Robinson, dan Gregg Popovich.
Pertemuan mereka di playoff sering kali menentukan siapa yang akhirnya akan menjadi juara NBA. Rivalitas ini bukan hanya soal pemain bintang, tetapi juga duel strategi antara dua pelatih legendaris. Hingga kini, rivalitas Lakers–Spurs tetap dianggap sebagai salah satu yang paling berpengaruh dalam sejarah modern NBA.
Rivalitas dalam NBA tidak sekadar menghadirkan tontonan basket berkualitas tinggi, tetapi juga drama, emosi, dan cerita yang melekat sepanjang masa. Lakers dan Celtics mewakili rivalitas klasik yang membentuk identitas liga. Bulls dan Pistons menggambarkan masa transisi kekuatan, dari era “Bad Boys” menuju kejayaan dinasti Michael Jordan. Knicks melawan Heat menghadirkan drama penuh fisik, sementara Warriors versus Cavaliers menjadi simbol era modern dengan intensitas luar biasa.
Bagi penggemar NBA, menyaksikan pertandingan rivalitas bukan hanya soal mendukung tim, tetapi juga bagian dari menikmati sejarah panjang liga basket paling bergengsi di dunia. Setiap generasi akan selalu punya rivalitasnya sendiri, dan itulah yang membuat NBA tidak pernah kehilangan daya tarik. Agar streaming NBA lancar tanpa gangguan, gunakan internet terbaik Batam dari O3 yang kualitasnya sudah tidak dapat diragukan lagi.